Senin, 14 Januari 2013

Ketupat Terakhir

Namaku caca, Aku adalah anak tunggal,aku sudah tamat sma dan akan melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi lagi,tapi untuk tahun ini, aku harus membantu ibuku dulu untuk mengumpulkan uang kuliahku dengan berjualan pempek dan siomay. Ya, mungkin untuk saat ini aku menganggur dahulu karna uang yang kami punya hanya cukup untuk makan kami berdua saja ,ayahku telah meninggal ketika aku berumur 5 tahun dan ibuku terlahir tidak sempurna seperti orang lainnya, ibuku terlahir tunarungu, tapi meskipun begitu ia tetap tegar dan selalu menjagaku.

“Tok..tok..tok” terdengar keras  suara ketukan pintu, Karna masih merasa mengantuk akhirnya aku kembali menarik selimutku dan karena suara ketukan itu semakin keras akhirnya aku menutup telingaku dengan sebuah bantal. Tapi ketukan itu semakin keras terdengar lalu dengan cepat aku berlari dan membuka pintu. Oh ternyata itu adalah ibuku. Ternyata ibuku menyuruhku untuk menitipkan dagangannya ke warung pak toni, dengan rasa kesal karna tidurku telah diganggu akhirnya aku bergerutuh kepada ibuku dengan kata-kata yang tidak seharusnya diucaapkan oleh seorang anak kepada ibunya,ya tapi

Bagaimana lagi, itu telah terjadi. Dengan rasa kesal aku kembali masuk ke dalam kamar dan menarik pintu kamarku dengan kencang “duaaarrr....” terdengar keras suara pintu kamarku. Tiba-tiba handphone ku berbunyi, dengan cepat aku mengambil handphone ku, oh ternyata itu adalah pesan singkat dari eca, dia mengajakku pergi untuk berjalan-jalan ke butik bu toni, dengan rasa gembira aku bergegas mandi dan pergi keluar dan tidak lupa pula aku meminta uang kepada ibuku, tapi ternyata ibuku sudah pergi ke keluar. Ya
terpaksa aku tidak membawa uang, lagian pula eca hanya ingin mengajakku melihat-lihat.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, ternyata itu adalah eca. Dengan rasa gembira akhirnya aku pergi ke rumah pak toni untuk melihat baju-baju. Aku tertegun ketika melihat baju berwarna merah yang terletak di sudut dinding rasanya aku ingin membeli baju itu. Setelah itu selesai dari butik buk toni, eca mengajakku pergi ke mall untuk berjalan-jalan, tapi aku menolaknya karna aku ingin cepat membicarakan tentang baju yang aku lihat tadi kepada ibuku. Sesampainya di rumah, aku langsung ke cepat menemui ibuku. “ bu, caca boleh minta sesuatu nggak sama ibu ?” Kata ku.

Ibuku mulai mengayunkan pensilnya dan menulis sesuatu, ternyata ibuku menjawab boleh. “caca kepengen baju warna merah yang ada di butik bu toni” Kataku dengan senang, ibuku kembali menulis sesuatu, ibuku bertanya kepada ku tentang harga baju itu.”Harganya Cuma 130.000 kok”. Ibuku terdiam mendengar aku bicara semudah itu menyebutkan uang sebanyak itu, ibuku menasehatiku bahwa lebih baik mengumpulkan uang untuk kuliahku saja dan sekarang ibuku juga tidak punya uang sedikitpun. Dengan rasa kesal aku langsung memarahi ibuku “ibu itu adalah ibu terpelit yang aku ketahui, coba aku punya orang tua seperti orang tuanya eca pasti hidupku gak sesengsara kayak gini bu, bu aku bosan hidup seperti ini, tidak ada yang bisa dibanggakan dari ibu” Kataku dengan lantang. Mendengar perkataanku tadi, tiba-tiba pipinya yang tadinya kering sekarang terbasahi oleh airmatanya yang menetes itu. Tapi aku tidak menghiraukannya, aku tetap
Bersikeras kepada ibuku, Lalu dengan cepat aku berlari ke kamarku dan mengunci pintuku.“kring...kring...kring” terdengar suara alarmku, aku langsung membalik badanku dan melihat jam, Hah ternyata sekarang jam 6 sore, ternyata aku tadi ketiduran. Dengan cepat aku mandi dan bergegas untuk berbuka puasa. Aku berlari ke kamar ibuku dan aku melihat ibuku sedang terbaring di atas kasur, dan terlihat dari wajahnya dia seperti sedang sakit dan juga ibuku belakangan ini sering batuk-batuk. Tiba-tiba terdengar suara adzan, lalu akhirnya aku dan ibuku bergegas ke meja makan. Tak terasa 1 minggu lagi akan

Lebaran kataku pada ibuku, tapi ibuku hanya membalasnya dengan senyuman. Setelah selesai berbuka puasa, aku masih terasa lapar, lalu aku pergi  kedapur untuk menggoreng pempek. Ketika aku menggoreng, kuali yang kupakai untuk menggoreng pempek itu lengket sehingga membuat pempek-pempek yang ku goreng ikut lengket, dan aku bersikeras untuk membalikkan pempek itu tapi tanpa aku sadari minyak panas itu tiba-tiba muncrat ke wajahku, aku pun menjerit dengan sangat keras, ibuku langsung mengajakku ke rumahsakit, dan tanpa aku sadari mataku akan buta selama-lamanya karan

Minyak yang tersiram ke wajahku itu sangatlah banyak, mendengar semua itu aku langsung syock. Ibuku tidak tega melihatku akan buta, lalu tanpa aku ketahui ibuku akan mendonorkan matanya kepadaku. Setelah aku selesai di operasi dan aku sudah sehat, akhirnya mataku bisa di buka dan aku bisa pulang, apalagi besok akan lebaran. Dengan rasa yang sangat gembira aku bertanya kepada dokter itu, “dok, siapa yang mendonorkan mataku ? dan kemana ibuku ?” kataku. “ Kalo kamu ingin lihat yang mendonorkan matamu, Kamu boleh lihat di kursi depan sana, tapi kamu harus pakai baju ini terlebih dahulu” Sahut dokter itu.

Aku terdiam melihat baju yang di berikan dokter itu, itu adalah baju yang aku inginkan dulu yang ada di butik bu toni. Dengan sangat gembira aku bergegas pergi keluar dan aku ingin berterimakasih kepada orang yang telah mendonorkan matanya kepada aku dan telah membelikan baju ini. Aku terkejud ketika aku melihat ibuku yang duduk disana, Ternyata ibuku yang mendonorkan matanya dan membelikan baju ini kepadaku. Aku langsung memeluk ibuku dan meminta maaf kepadanya, “ bu, kenapa ibu mendonorkan mata ibu sama caca? Ibu kan sudah tidak bisa mendengar dan berbicara, gak mungkin ibu tidak bisa melihat pula.

Bu maafin caca karna sudah pernah ngbentak ibu dan tidak pernah membanggakan ibu, maafin caca pula karna caca selalu ngebanggain ibu sama orang lain dan caca pernah ngebentak ibu sampek ibu nangis, sekarang caca sadar ibu adalah orang yang poaling hebat yang pernah caca temui” kataku sambil meneteskan airmata. Ibuku mulai menulis sesuatu dengan pensilnya, ternyata ibuku menulis,”mata itu bagi ibu bukan apa-apa, asalkan kamu bisa bahagia itu sudah membuat ibu sangat-sangat bahagia sekali” kata ibu.

Keesokan harinya, aku dan ibuku pergi bersama-sama shalat ke masjid, selesai kami shalat ke masjid, aku dan ibuku makan ketupat dan opor ayam yang sangat enak buatan ibuku.”Rasanya aku ingin nambah deh bu kalo enaknya selangit kayak gini”kataku, ibuku hanya tersenyum mendengar perkataanku. Tiba-tiba ibuku terjatuh pingsan, aku melihat itu langsung panik dan langsung membawa ibuku ke rumah sakit, dan ternyata ibuku telah tiada dan ternyata ibuku dari dulu mengidap penyakit Tubercullosis yang sudah sangat parah. Tahun telah berlalu, Akhirnya aku dapat melanjutkan kuliahku dan aku sekarang tinggal bersama pamanku. “END”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar