Senin, 14 Januari 2013

Nilai Sebuah Waktu


Ketika aku terbangun dari tidurku, aku mendengar suara ketukan pintu. Pada saat itu, mataku tertuju pada jam dindingku yang sedang menunjukkan pukul 06.30. Aku baru sadar, pasti aku tidur terlalu malam karena aku bermain facebook terlalu lama. Aku langsung meninggalkan tempat tidurku, meski rasanya berat. Lalu aku membuka pintu kamarku, ternyata yang mengetuk pintuku tadi adalah ibuku. Aku langsung memarahi ibuku karena dia terlambat membangunkanku sehingga membuat aku bangun kesiangan. Ibuku hanya terdiam dan meminta maaf kepadaku.  Setelah itu, aku langsung berlari menuju kamar mandi. Setelah semuanya selesai, aku langsung pergi kesekolah. Disepanjang jalan aku menghirup udara yang sangat segar. Aku bernama Marsella, aku anak kedua dari 3 bersaudara. Aku tinggal di aceh bagian barat tepatnya didaerah meaulaboh. Aku bersekolah di smp budi pekerti.
          Sesampainya disekolah, aku langsung memasuki kelasku dan dikelasku telah dimulai pelajaran matematika. Aku sangat membenci pelajaran ini, bukan karena pelajarannya, tetapi aku tidak menyukai gurunya. Ketika sesampainya di depan pintu kelasku, aku terdiam seakan-akan seperti ada rantai yang telah mengikat kakiku dan seperti ada lem yang merekat dibibirku sehingga aku tidak dapat berbicara apa-apa. Aku melihat semua temanku yang sedang memperhatikanku. Pada saat itu pula aku mendengar suara dari arah belakang. Ternyata dia adalah dimas. Dia memanggilku dan menyuruhku masuk. Aku sebenarnya takut, tapi aku harus memberanikan diriku. Lalu aku mulai melangkahkan kakiku, aku berjalan secara diam-diam. Tiba-tiba, prukk... . ternyata spidol yang dipegang guruku terjatuh ke arahku. Aku hanya terdiam dan tidak dapat bicara apa-apa. Tanpa ku sangka ternyata buk irma menyuruhku duduk. Dengan sangat heran, aku berjalan ke arah bangkuku. Lalu aku memulai pelajaran.
          Hari telah siang, bel yang ku tunggu-tunggu akhirnya berbunyi, akhirnya aku pulang ke rumah ku. Sesampainya di rumah, aku langsung melemparkan tasku dan mengambil laptopku, aku pun langsung membuka facebookku. Hari telah sore, adzan pun berbunyi dan aku masih asyik memainkan laptopku tanpa menghiraukan adzan telah berbunyi. Tiba-tiba ibu .
“kenapa kamu tidak belajar,sel ? kata ibuku.
“percuma saja belajar malam ini kan besok tidak ada ulangan,bu” sahut ku dengan lantang.
“mungkin kamu ulangan mendadak ?” kata ibu sambil meyakinkanku.
“ sudahlah,bu “ sahutku dengan nada yang marah.
Ibu hanya terdiam atas ucapanku tadi, dia hanya bersabar dengan sifat egoisku ini. Keesokan harinya aku pergi kesekolah pagi-pagi sekali. Ketika di dalam kelas aku mendengar sekumpulan anak perempuan sedang membicarakan sesuatu yang tampak serius.
“hay temen-temen, anak kelas 9.2 kemarin ulangan, mungkin kelas kita abis keluar main akan ulangan ” kata nadia.
“ak mungkin, ibu irma kan sebelumnya belum memberitahu “ sahutku dengan kesal.
“tapi kan kata ibu irma jangan ulangan saja kita belajar” kata nabila dengan nada yang marah.
          Lalu, semenjak perdebatan antara aku dengan nabila itu terjadi, akhirnya anak-anak yang lain memutuskan untuk belajar. Ya, waktu sedikit itu kan mereka gunakan untuk mengulangi pelajaran yang dulu-dulu. Tetapi hanya aku sendiri yang tidak mengambil buku, karena aku yakin ulangan itu tidak akan dilaksanakan, meskipun aku sedikit terasa takut. Bel keluar main pun berbunyi, aku masih terfikir ucapan nadia tadi. Lalu aku memutuskan untuk berpura-pura sakit. Dengan seizin guru, aku pulang kerumah lebih awal. Tetapi aku tidak pulang kerumah karena aku takut dimarahi ibuku. Lalu aku memutuskan untuk duduk di taman, hampir semua kursi di taman penuh. Hanya satu kursi yang berada paling ujung yang sedang diduduki seorang penyapu jalanan, lalu aku berjalan menuju bangku itu.
“selamat pagi pak” tegur ku, “boleh saya duduk disini ?
“tentu nak, silakan” kata bapak itu sambil menggeser bangkunya.
“apa yang sedang bapak kerjakan?” tanya ku.
“ada nak. Kenapa kamu pulang lebih awal? “ kata bapak itu.
“aku takut nanti ada ulangan matematika secara mendadak” jawabku.
“kamu meninggalakn pelajaranmu  ? tanya bapak itu.
“iya pak “ jawabku.
“kata ayah bapak dulu, janganlah dirimu menyianyiakan waktu dan nilailah waktu mu sebaik-baik mungkin” tegur bapak itu.
          Aku hanya terdiam, rasanya aku ingin sekali menagis. Aku berfikir, kenapa aku tidak mengikuti kata ibuku saja tadi malam. Dengan rasa penyesalan, aku pulang ke rumah dan meminta maaf kepada ibuku. Tetapi, tanpa kusangka, ibuku masuk ke rumah sakit gara-gara perutnya terasa sakit. Lalu aku menyusul ibuku, ketika di rumah sakit, aku meminta maaf kepada ibuku dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatanku. 2 bulan telah berlalu, akhirnya aku mendapatkan nilai terbaik dibandingkan teman-temanku, dan aku menjadi kebanggaan orangtuaku. SELESAI.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar